Rupiah tergelincir di tengah pasar khawatir kenaikan suku bunga AS - BeritAja

Sedang Trending 1 tahun yang lalu
beritaja.com

Tekanan rupiah mungkin tetap bakal besar, dengan kecenderungan dolar AS nan tetap dalam tren penguatan lantaran spekulasi bakal kenaikan Fed Funds Rate (FFR) lebih tinggi dari nan diprediksi sebelumnya

Jakarta (BERITAJA.COM) - Nilai tukar (kurs) rupiah nan ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir perdagangan Rabu tergelincir di tengah pasar nan cemas bakal kenaikan suku kembang referensi AS alias Fed Funds Rate nan lebih agresif.

Rupiah pada Rabu ditutup turun 71 poin alias 0,46 persen ke posisi Rp15.438 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.367 per dolar AS.

"Tekanan rupiah mungkin tetap bakal besar, dengan kecenderungan dolar AS nan tetap dalam tren penguatan lantaran spekulasi bakal kenaikan Fed Funds Rate (FFR) lebih tinggi dari nan diprediksi sebelumnya," kata ahli ekonomi Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto saat dihubungi BERITAJA.COM di Jakarta, Rabu.

Rully menuturkan dengan inflasi Amerika Serikat (AS) nan tetap susah turun hingga ke level targetnya, maka pasar memperkirakan bahwa FFR tetap kudu dinaikkan.

Meski sudah turun, inflasi AS tetap tergolong sangat tinggi, dengan headline Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) tetap di 6,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) per Januari 2023, jauh di atas sasaran ialah dua persen yoy.

Saat ini pasar memperkirakan FFR bakal mencapai puncaknya atau terminal rate di 5,5 persen. Selain itu, pasar juga tetap menunggu rilis info ketenagakerjaan AS pada Jumat.

Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed Jerome Powell, nan bakal memberikan kesaksian lagi pada Rabu di depan Komite Jasa Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat, juga menambahkan bahwa Fed tidak bakal mempertimbangkan untuk mengubah sasaran inflasi dua persen dan pasar kerja tidak menunjukkan bahwa penurunan ekonomi sudah dekat.

Data nan mempengaruhi jalur kenaikan suku kembang Fed bakal mencakup penambahan penghasilan nonpertanian pada Jumat (10/3/2023) nan diawasi ketat untuk Februari. Para ahli ekonomi nan disurvei oleh Reuters memperkirakan kenaikan 200.000 pekerjaan dibandingkan dengan 517.000 pekerjaan nan jauh lebih kuat dari perkiraan nan dilaporkan pada Januari.

Sementara dari dalam negeri, tetap belum banyak sentimen. Data ekonomi domestik secara umum tetap cukup baik, dengan info terakhir nan diumumkan ialah persediaan devisa mengalami kenaikan menjadi 140,3 miliar dolar AS pada Februari 2023. Namun, sentimen dunia tetap bakal mendominasi, sehingga rupiah berpotensi melemah.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp15.416 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp15.416 per dolar AS hingga Rp15.466 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu merosot ke posisi Rp15.451 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.359 per dolar AS.

Berita lain dengan Judul: Saham Asia jatuh, dolar menguat setelah komentar Powell nan "hawkish"
Berita lain dengan Judul: Minyak stabil di Asia, penurunan stok AS imbangi cemas kembang naik
Berita lain dengan Judul: Emas ambruk tertekan ekspektasi kenaikan suku kembang Fed nan agresif

 

Martha Herlinawati Simanjuntak

COPYRIGHT © BERITAJA.COM 2023





Baca Juga:
  • Bahasa Banjar Translate dan Artinya
  • Pantun Bahasa Banjar
  • 10 Tanda Baca dalam Alquran
  • Terkini! Waktu Sholat Banjarmasin
  • Lengkap A-Z, Rekomendasi Nama Nama Bayi Laki Laki Islami dan Artinya
  • Lengkap! A-Z, Nama Nama Bayi Perempuan Islami dan Artinya


  • Kategori:



    Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
    close