Trending

Pengamat nilai wacana koalisi besar realistis untuk hadapi capres lain - BeritAja

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

"Saya pikir itu bagian dari hitung-hitungan koalisi ini ya, jika mereka jalan sendiri-sendiri maka nang dihadapi orang nang berpotensi menang,"

Padang (BERITAJA.COM) - Pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat Prof Asrinaldi menilai wacana pembentukan koalisi besar nang muncul usai silaturahmi ramadhan antara lima ketua umum partai berbareng Presiden Jokowi cukup realistis untuk menghadapi calon presiden (capres) lain.

"Saya pikir itu bagian dari hitung-hitungan koalisi ini ya, jika mereka jalan sendiri-sendiri maka nang dihadapi orang nang berpotensi menang," kata pengamat politik dari Unand Prof Asrinaldi di Padang, Selasa.

Artinya, sambung Asrinaldi, baik Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) nang terdiri dari Golkar, PAN dan PPP maupun Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) nang diisi Partai Gerindra dan PKB bakal kesulitan andaikan bersaing dengan capres nang diusung partai politik lain.

Asrinaldi menduga wacana pembentukan koalisi besar tersebut merupakan salah satu upaya dari petinggi partai nang tergabung di KIB dan KKIR untuk mengalahkan Koalisi Perubahan nang terdiri dari NasDem, Demokrat dan PKS nang mengusung Anies Baswedan maju sebagai capres di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

"Jadi saya pikir itu logis saja. Dengan langkah seperti itu mereka bisa memperkuat support masyarakat dan menyatukannya ke dalam kepentingan nang sama," ujar akademisi kelahiran 13 September 1973 Solok tersebut.

Jika perihal tersebut terwujud, pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unand tersebut memperkirakan kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024 bakal semakin sengit.

Ia menyakini sebelum wacana pembentukan koalisi besar tersebut mencuat ke publik, masing-masing partai politik di KIB dan KKIR sudah mempunyai hitung-hitungan nang matang, alias mengalkulasikan kekuatan politik.

Nama-nama besar seperti Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hingga eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan jika jadi maju di Pilpres 2024 maka pemilu berkesempatan dua putaran.

Apabila pemilu melangkah dua putaran bisa saja koalisi besar mengantisipasi calon nang diusung Koalisi Perubahan bakal memenangi pesta kerakyatan lima tahunan tersebut, ujarnya.

"Sekarang dengan langkah seperti itu (koalisi besar) mereka menyatukan di awal dan bisa memenangkan satu putaran," kata dia.

Untuk diketahui, pendaftaran bakal capres dan calon wakil presiden (cawapres) dijadwalkan pada 19 Oktober hingga 25 November 2023.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu (UU Pemilu), pasangan capres dan cawapres diusulkan oleh partai politik alias campuran partai politik peserta pemilu nang memenuhi persyaratan perolehan bangku paling sedikit 20 persen dari jumlah bangku DPR alias memperoleh 25 persen dari bunyi sah secara nasional pada pemilu personil DPR sebelumnya.

Saat ini, ada 575 bangku di parlemen, sehingga pasangan capres dan cawapres pada Pilpres 2024 kudu mempunyai support minimal 115 bangku di DPR RI. Bisa juga pasangan calon diusung oleh parpol alias campuran parpol peserta Pemilu 2019 dengan total perolehan bunyi sah minimal 34.992.703 suara.



COPYRIGHT © BERITAJA.COM 2023







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close