Trends

Penderita "long COVID" lebih sering mengalami masalah pencernaan - BeritAja

Sedang Trending 11 bulan yang lalu
beritaja.com

Jakarta (BERITAJA.COM) - Sebuah studi di Amerika Serikat nan diterbitkan jurnal Nature Communications mengatakan bahwa pasien nan pernah menderita COVID-19 dengan indikasi sisa alias long COVID secara signifikan lebih mungkin mengalami masalah pencernaan setahun setelah infeksi, daripada orang nan tidak pernah terinfeksi sebelumnya.

Masalah pencernaan seperti sakit perut, sembelit, diare, muntah, kembung adalah beberapa indikasi nan sering dilaporkan oleh penderita long COVID, mengutip New York Times, Rabu.

Studi ini diambil dari catatan medis sistem Administrasi Kesehatan Veteran sebanyak 154.068 pasien dengan sekitar 5,6 juta pasien dengan usia nan sama dan karakter lain nan tidak tertular virus corona.

Dari info tersebut, pasien nan pernah terinfeksi COVID-19, 36 persen lebih mungkin mengalami masalah gastrointestinal jangka panjang nan tidak mereka alami sebelum infeksi, dengan 9.605 di antaranya mengalami masalah nan memengaruhi sistem pencernaan, usus, pankreas, alias hati.

Diagnosis nan paling umum adalah gangguan mengenai asam, seperti penyakit gastroesophageal reflux (GERD) dan penyakit tukak lambung, nan diidentifikasi pada lebih dari 2.600 pasien.

"Tampaknya ada beberapa disregulasi nan menunjukkan ketidakseimbangan utama dalam produksi asam," kata penulis senior studi tersebut, Dr. Ziyad Al-Aly, kepala penelitian dan pengembangan di V.A. Sistem Perawatan Kesehatan St. Louis dan mahir epidemiologi klinis di Universitas Washington di St. Louis, Amerika Serikat.

Penyakit radang serius seperti pankreatitis akut dan kolangitis, nan merupakan peradangan pada sistem saluran empedu, memengaruhi persentase pasien nan jauh lebih kecil, tetapi penyakit tersebut lebih umum di antara mereka nan menderita COVID-19 daripada mereka nan tidak.

Berita lain dengan Judul: Riset baru indikasikan Long COVID mengenai rendahnya kadar oksigen otak

"Dengan semua kelainan ini, ada peningkatan odds ratio, artinya orang nan menderita COVID dan memperkuat selama 30 hari alias lebih lebih berisiko terhadap masing-masing kategori ini," kata Dr. Saurabh Mehandru, seorang guru besar gastroenterologi di Sekolah Kedokteran Icahn di Gunung Sinai di New York nan tidak terlibat dalam penelitian ini.

Para pasien terinfeksi selama gelombang awal pandemi, dites positif virus corona antara 1 Maret 2020 dan 15 Januari 2021, kebanyakan sebelum vaksin tersedia. Al-Aly dan Mehandru mencatat bahwa pengalaman mungkin berbeda untuk orang nan terinfeksi baru-baru ini.

Varian virus nan lebih baru mungkin mempunyai pengaruh nan berbeda, kata mereka, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa vaksin dapat mengurangi akibat beragam indikasi COVID-19 nan berkepanjangan.

Ada beberapa argumen jangkitan virus corona dapat memicu masalah pencernaan jangka panjang. Mehandru berbareng timnya menemukan bahwa protein nan ditempelkan virus pada beberapa permukaan sel, nan disebut reseptor ACE2, berlimpah di lapisan usus kecil. Reseptor itu mungkin menyediakan langkah bagi virus untuk langsung masuk ke sistem pencernaan.

Meskipun jangkitan telah sembuh, kemungkinan beberapa bagian virus tetap ada, sehingga membikin sistem kekebalan pasien tetap aktif dan menimbulkan indikasi mengenai peradangan.

Berita lain dengan Judul: Warga AS penderita long COVID hadapi proses klaim asuransi lama

"Kemungkinan lain adalah hubungan usus-otak, ketika kita stres, kita mempunyai manifestasi usus. Beberapa indikasi juga bisa disebabkan oleh keadaan umum tidak sehat alias mempunyai penyakit di luar usus, nan dapat memengaruhi langkah kita buang air besar alias kita merasa kembung alias mengalami refluks asam," kata Mehandru.

Studi baru ini tidak mengidentifikasi apakah kondisi kesehatan tertentu sebelumnya, seperti glukosuria alias penyakit kardiovaskular, membikin orang berisiko lebih besar mengalami masalah pencernaan pasca-COVID.

Seperti banyak penelitian COVID jangka panjang lainnya, ditemukan bahwa orang nan jangkitan awalnya cukup ppetunjuk untuk memerlukan perawatan intensif alias rawat inap lainnya lebih rentan terhadap indikasi jangka panjang. Namun, orang dengan jangkitan awal ringan tetap berisiko lebih besar mengalami masalah pencernaan daripada orang nan tidak terinfeksi.

Dalam kesempatan ini, Al-Aly optimistis beberapa gejala long COVID, seperti kelelahan dan kabut otak, dapat memperkuat selama berbulan-bulan meskipun dengan terapi nan berbeda, dan banyak indikasi gastrointestinal nan dapat diobati.

"Jelas, tidak ada satu pengobatan untuk semua ini, Tapi saya pikir ini adalah pemeriksaan dan tanda serta indikasi nan bisa ditangani," kata Al-Aly.

Berita lain dengan Judul: Vaksin COVID-19 disarankan tetap cuma-cuma meski pandemi usai

Berita lain dengan Judul: Wanita dengan IMT tinggi berisiko lebih tinggi alami long-COVID-19

Berita lain dengan Judul: Survei di AS: Long COVID lebih berakibat pada wanita dibanding pria

:

COPYRIGHT © BERITAJA.COM 2023





Baca Juga:
  • Bahasa Banjar Translate dan Artinya
  • Pantun Bahasa Banjar
  • 10 Tanda Baca dalam Alquran
  • Terkini! Waktu Sholat Banjarmasin
  • Lengkap A-Z, Rekomendasi Nama Nama Bayi Laki Laki Islami dan Artinya
  • Lengkap! A-Z, Nama Nama Bayi Perempuan Islami dan Artinya


  • Kategori:



    Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di



    close