Trending

OJK bidik penetrasi kredit di atas 35 persen dari PDB - BeritAja

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

Jadi tetap banyak ruang untuk bertumbuh untuk angsuran di Indonesia, tidak hanya bicara angsuran bank, tapi juga pembiayaan non bank.

Nusa Dua, Bali (BERITAJA.COM) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membidik penetrasi angsuran nasional di atas 35 persen dari produk domestik bruto (PDB) lantaran tetap banyak potensi nang bisa dielaborasi, salah satunya sektor upaya mikro mini dan menengah (UMKM).

"Jadi tetap banyak ruang untuk bertumbuh untuk angsuran di Indonesia, tidak hanya bicara angsuran bank, tapi juga pembiayaan non bank," kata Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara dalam seminar internasional mengenai penilaian angsuran di Nusa Dua, Bali, Jumat.

Menurut dia, realisasi angsuran di Indonesia saat ini diperkirakan baru mencapai sekitar 35 persen dari PDB.

Berita lain dengan Judul: BI: Kredit perbankan tumbuh 10,64 persen pada Februari 2023

 Berdasarkan info OJK, realisasi angsuran perbankan pada Desember 2022 mencapai Rp6.424 triliun alias melonjak 11,35 persen jika dibandingkan periode sama 2021 mencapai Rp5.482 triliun.

Capaian realisasi angsuran 2022 itu diperkirakan sekitar 35 persen dari total PDB atas dasar nilai bertindak mencapai Rp19.588,4 triliun, berasas info Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022.

Dia menjelaskan persentase angsuran perbankan di Tanah Air itu tetap lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Thailand nang mencapai sekitar 70 persen dari PDB negara gajah putih itu.

Ia menyakini support penetrasi angsuran tidak hanya dikontribusikan oleh sektor perbankan, tetapi juga angsuran non bank seperti lembaga pembiayaan seperti Pegadaian, hingga lembaga finansial info seperti Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Mirza menambahkan penilaian angsuran pengganti nang inovatif alias (ICS) berpotensi menjadi salah satu info untuk menilai calon debitur termasuk dari pelaku UMKM.

ICS, lanjut dia, dapat menjadi langkah baru selain penilaian angsuran oleh Biro Kredit Konvensional nang menilai riwayat pembayaran pinjaman dan utang nang belum lunas.

Apalagi dengan era digital, info mengenai transaksi nang tren saat ini seperti Beli Sekarang Bayar Kemudian (Buy Now Pay Later/BNPL) dan aktivitas digital UMKM dapat menjadi salah satu bagian penilaian dalam memperoleh akses kredit.

"Kita semua ada di era digital. Untuk menumbuhkan kredit, info dari aktivitas digital, bisa digunakan sebagai info ini untuk menumbuhkan angsuran di Indonesia," ucapnya.

Berita lain dengan Judul: OJK ajak lembaga penilai angsuran konvensional dan inovatif bersinergi

Untuk menumbuhkan angsuran nang memenuhi prinsip hati-hati, lanjut dia, pemerintah mempunyai program agunan angsuran termasuk bagi UMKM.

"Dengan banyaknya masyarakat nyaris 300 juta dari Sabang sampai Merauke, itu (35 persen kredit) belum cukup. Kami kudu menumbuhkan banyak lagi pinjaman, tidak hanya dari bank tapi juga non bank, tidak hanya menggunakan konvensional tapi juga info digital," ucapnya.



COPYRIGHT © BERITAJA.COM 2023







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close