Trending

Ketum PBNU sebut fikih peradaban putus berbagai masalah kekerasan - BeritAja

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

Imam, ya, khalifah. Khalifah itu ya sultan. Lah jika negaranya ini negara demokrasi, hakimnya siapa? Apakah Presiden memenuhi syarat menjadi hakim?

Jakarta (BERITAJA.COM) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa fikih peradaban merupakan platform untuk memutus beragam persoalan kekerasan nang melanda dunia.

“Maka PBNU berupaya untuk menyediakan satu platform bagi para ustadz nang mungkin saling berbeda pendapat untuk menemukan kata putus tentang hal-hal paling strategis di dalam kehidupan umat manusia ini di tengah-tengah masyarakat bumi nang penuh keragaman,” kata Gus Yahya, sapaan berkawan Yahya Cholil Staquf, dalam keterangan nang diterima di Jakarta, Selasa.

Gus Yahya mengatakan belum ada penjelasan mengenai hukum nang bisa menerima bangunan negara bangsa nang berdemokrasi seperti Indonesia.

“Karena dalam bangunan negara bangsa ini ada banyak hal-hal baru nang tidak matching lagi, tidak bersesuaian lagi dengan wawasan lama tentang negara dan kepemimpinan politik,” katanya.

Berita lain dengan Judul: Akademisi penghargaan pendapat fikih peradaban Gus Yahya

Misalnya, kata Gus Yahya, satu pertanyaan saja jika dikatakan di dalam wacana hukum itu selalu dibutuhkan adanya seorang Hakim nang bisa memberi kata putus terhadap segala macam perselisihan sehingga ada norma “Hukum al-hakim yarfa'u al-khilaf”, keputusan pemerintah memutus perselisihan.

“Karena itu, pemerintahan disebut balasan lantaran memberi kata putus dalam perselisihan apa pun di dalam masyarakat termasuk dalam perselisihan keagamaan,” ujarnya.

Kalau dulu, tutur Gus Yahya melanjutkan, hakimnya adalah imam.

“Imam, ya, khalifah. Khalifah itu ya sultan. Lah jika negaranya ini negara demokrasi, hakimnya siapa? Apakah Presiden memenuhi syarat menjadi hakim?” kata Gus Yahya.

Lebih lanjut, Gus Yahya menyampaikan bahwa golongan nang menolak negara bangsa dan menggunakan kekerasan untuk mewujudkan cita-citanya itu juga mendasarkannya pada dalil-dalil Al Quran dan hadits.

Karenanya, dia menegaskan bahwa perlu dasar injakan nang bisa menjadi dalil agar kehidupan nang harmoni dapat terwujud.

“Maka mendesak sekali bagi kita semua untuk segera menemukan suatu landasan agar keseluruhan kehidupan umat manusia ini bisa dibangun di atas prinsip-prinsip interaksi, prinsip-prinsip pergaulan kemanusiaan nang lebih menjamin perdamaian,” ujarnya.

Berita lain dengan Judul: Ketua Umum PBNU sebut Piagam PBB tak bertentangan dengan hukum Islam
Berita lain dengan Judul: Akademisi Unusia minta ada pendalaman pemahaman soal fikih peradaban



COPYRIGHT © BERITAJA.COM 2023







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close