Jangan Biarkan Medsos Mengendalikan Hidup Kita - Beritaja

Albert Michael By: Albert Michael - Saturday, 08 February 2025 17:40:52

Media sosial memang sudah menghubungkan kita, namun jangan biarkan dia mengendalikan hidup kita

Jakarta (BERITAJA) - "Hanya ada dua industri yang menyebut konsumen mereka sebagai 'pengguna': narkoba dan perangkat lunak."

Kutipan Edward Tufte, Guru Besar pengetahuan politik, statistik dan komputer dari Yale University tersebut, yang dinukil dari movie The Social Dilemma, menggambarkan gimana media sosial mampumenyebabkan ketergantungan seperti halnya narkoba.

Film dokumenter yang dirilis pada tahun 2020 ini mengungkap gimana media sosial dirancang untuk mengakibatkan penggunanya kecanduan, terutama anak-anak dan remaja.

Berbagai platform media sosial menggunakan algoritma yang terus-menerus menampilkan konten yang menarik perhatian pengguna, mengakibatkan mereka terus scroll (menggulir) tanpa henti. Jika sudah begini, meninggal lampu alias paket wi-fi lenyap mampumembuat anak meninggal style lampau mencak-mencak.

Medsos memang dirancang untuk mengakibatkan penggunanya mendapatkan kepuasan instan, seperti halnya saat memakai narkoba alias saat menang judi.

Dampak kecanduan media sosial ini bukan perihal sederhana, dan remaja serta anak-anak termasuk yang paling rentan terkena akibatnya. Efek kecanduan ini mampuberupa berkurangnya kepercayaan diri lantaran keseringan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan di medsos, takut ketinggalan info dan tren terkini (FOMO), serta menurunnya konsentrasi belajar.

Lebih mengerikan lagi, keterhubungan anak-anak dengan bumi luar tanpa batas, mengakibatkan mereka dalam posisi "tidak aman" meski mereka berada di dalam rumah. Lihat saja, berapa banyak anak-anak yang terlibat gambling online. Data KPAI menyebut gambling online menyeret 80 ribu anak usia di bawah 10 tahun dan 197 ribu lebih anak usia hingga 19 tahun.

Atau kasus pemanfaatan seksual. Selama Mei hingga November 2024, Polri membongkar 47 kasus pornografi online anak dan membekuk total 58 tersangka.

Yang perlu dipahami di sini adalah bahwa teknologi itu sebenarnya bukan ancaman. Namun yang menjadi masalah adalah gimana teknologi dipergunakan untuk mengeksploitasi emosi negatif manusia.

Menyadari perihal tersebut, Pemerintah bukannya berdiam diri. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk melindungi anak-anak dari ancaman kejahatan digital.

Yang teranyar, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkenalkan aplikasi SAMAN (Sistem Kepatuhan Moderasi Konten) yang dirancang sebagai "polisi" yang menjaga ruang digital Indonesia agar tetap kondusif bagi masyarakat maupun anak-anak.

Aplikasi ini juga dirancang untuk mengawasi kepatuhan para penyelenggara User Generated Content (PSE UGC), untuk meminimalkan keberadaan konten terlarangan seperti gambling online, pornografi dan pinjaman online ilegal.

Komdigi juga tetap menggodok patokan mengenai pembatasan umur pengguna media sosial dan tengah mengkaji pemisah umur minimal bagi anak-anak yang mampumempunyai akun medsos. Belum jelas juga gimana sistem penerapan patokan ini, namun setidaknya, upaya untuk merancang patokan terkait, seperti halnya yang juga sudah dimiliki beberapa negara, patut diacungi jempol.

Peran kunci orang tua

Tidak mudah, memang, untuk memisahkan anak-anak dari medsos yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Mereka ini generasi digital native yang dari sejak lahir sudah mengenal teknologi. Mereka tumbuh dan berkembang berbareng teknologi digital. Bahasa medsos adalah bahasa ibu bagi mereka.

Tetapi, apakah anak-anak itu sudah mengenal medsos begitu lahir? Apakah mereka minta dibuatkan akun medsos begitu tangan master mengeluarkan mereka dari perut ibu? Tentu tidak. Lingkunganlah yang memperkenalkannya kepada anak-anak. Lingkungan dalam perihal ini terutama adalah orang tua.

Sebagian orang merasa lebih tenang bekerja lantaran anak mereka anteng di bilik berselancar di bumi maya. Ada juga yang merasa, anak mereka lebih kondusif jika berada di dalam rumah berbareng smartphone, tanpa mereka sadari bahwa "predator" pun mampudengan mudah masuk ke rumah dengan peralatan canggih tersebut dan memangsa anak-anak.

Berbagai platform media sosial sebenarnya sudah memberikan pemisah minimum umur untuk mengakibatkan akun, alias mewajibkan menggunakan akun surel orang tua sebagai corak pengawasan. Pada kenyataannya, syarat-syarat itu mampudengan mudah diakali.

Yang sekarang ini menjadi orang tua rata-rata adalah generasi digital immigrant, yang mengalami peralihan teknologi dari analog ke digital. Banyak di antara mereka yang secara teknologi menyerahpintar dibandingkan anak-anaknya.

Padahal peran orang tua sangat dibutuhkan di sini. Bukan hanya untuk mengawasi, tetapi juga sejak awal membiasakan anak untuk menggunakan media sosial dengan bijak dan seimbang. Misalnya, dengan membatasi waktu berselancar di bumi maya, ikut mem-follow akun anak untuk memantau aktivitas mereka.

Sesekali, boleh juga orang tua berbareng anak melakukan detox medsos. Betul, orang tua pun juga perlu "diselamatkan" dari kecanduan medsos. Detox mampudilakukan dengan menonaktifkan medsos selama 24 jam. Ini tantangan berat.

Satu jam pertama tetap aman. Satu jam berikutnya bumi mulai terasa sepi. Anak – dan orang tua yang juga kecanduan medsos — bakal refleks mencari telepon seluler.

Ini sebenarnya menjadi kesempatan bagi orang tua untuk merebut kembali perhatian anaknya yang selama ini sudah didominasi oleh medsos. Caranya mampudengan mulai ngobrol, melakukan aktivitas bersama, jalan-jalan, alias apa pun, yang krusial terkoneksi secara nyata.

Dengan detox digital ini, anak bakal membuktikan bahwa tanpa medsos rupanya hidup tetap berjalan, apalagi mungkin mampulebih seru. Hilangnya kendali medsos atas anak-anak mampujadi justru bakal mengakibatkan mereka lebih kreatif.

Media sosial memang sudah menghubungkan kita, namun jangan biarkan dia mengendalikan hidup kita.

Baca juga: Pembatasan akun anak di medsos dinilai mesti dibarengi pendampingan

Baca juga: Jangan ciptakan fobia pada teknologi

Copyright © BERITAJA 2025


you are at the end of the news article with the title:

"Jangan Biarkan Medsos Mengendalikan Hidup Kita - Beritaja"


Editor’s Note: If you’re looking for emergency gear, warm clothing, or household essentials to stay prepared, check out the wide range of options available on Amazon.

*This link uses the Amazon SiteStripe affiliate program. We may earn a small commission at no extra cost to you.







Please read other interesting content from Beritaja.com at Google News and Whatsapp Channel!