Trending

Hutan Wehea, warisan alam yang terus dijaga kelestariannya - Beritaja

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Kutai Timur (BERITAJA) -

Di pedalaman Kalimantan Timur, terbentang rimba tropis yang tetap asri, ialah rimba Wehea. Hutan ini bukan hanya rumah bagi beragam jenis tanaman dan hewan yang tergolong langka, tetapi juga menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat budaya Dayak Wehea dalam menjaga kelestarian alam.

Komunitas budaya Dayak Wehea di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur, tidak hanya bertanggung jawab menjaga hutan, tetapi juga berupaya menyadarkan generasi muda tentang pentingnya rimba melalui edukasi.
 

Yuliana Wetuq, Koordinator Kelompok Penjaga Hutan Wehea, dengan penuh semangat menceritakan upaya mereka dalam melestarikan rimba ini.
 

Di sekitar rimba Wehea, terdapat beberapa sekolah yang telah mendapatkan edukasi tentang pelestarian hutan, termasuk sekolah-sekolah negeri, dan swasta. Mereka diajarkan untuk menghargai dan melindungi rimba yang merupakan warisan leluhur dan sumber kehidupan.

Masyarakat budaya di Desa Nehas Liah Bing mempunyai langkah tersendiri dalam menjaga hutan. Selain edukasi, mereka juga mengadakan program-program yang menarik visitor untuk memandang keelokan dan karakter rimba Wehea.

"Kami juga membujuk masyarakat dan para pemuda, agar mereka mengerti gimana kami menjaga rimba dan apa saja yang mesti dilindungi," tutur Yuliana.

Salah satu kekayaan rimba Wehea adalah tanaman obat-obatan yang merupakan ramuan turun-temurun. Masyarakat budaya telah lama menggunakan toko obat hidup untuk mengobati beragam penyakit, baik yang ada di rimba maupun di kampung.

Upaya pelestarian ini telah melangkah lama sejak 2004, lantaran rimba Wehea adalah rimba budaya yang dijaga turun-temurun.

Asa Yuliana, jika rimba Wehea diakui sebagai rimba adat, maka pelestarian bakal lebih terjamin. Masyarakat budaya mempunyai ritual yang tidakmampu dipisahkan dari hutan, seperti penggunaan kayu tertentu yang hanyamampu ditemukan di rimba Wehea. Ritual tersebut dirangkai dalam pesta budaya Lom Plai yang digelar setahun sekali.

Hubungan antara masyarakat budaya dan rimba Wehea adalah hubungan simbiosis yang tidakmampu diputus.

Hingga saat ini, rimba Wehea terbebas dari kontaminasi industri, seperti sawit, rimba tanaman industri alias eksplorasi lainnya. Keberadaan rimba ini sangat krusial untuk menjaga sumber air bersih dan keanekaragaman hayati. Oleh lantaran itu, patroli rutin dilakukan untuk menjaga rimba dari ancaman.

Di rimba Wehea, terdapat hewan endemik dan pohon-pohon besar yang dominan, yang menjadi simbol kekuatan dan kelestarian hutan. Harapan Yuliana dan masyarakat budaya kepada pemerintah adalah agar rimba Wehea terus terjaga dan didukung sepenuhnya, baik oleh pemerintah wilayah maupun pusat.

Yuliana meletakkan angan besar atas support pemerintah terhadap golongan penjaga hutan. Sebagai pengelola hutan, mau agar ada perhatian lebih.  Kelompok penjaga diberi perhatian besar oleh para pemangku kepentingan.
 

Bentang rimba Wehea

Terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, Hutan Lindung Wehea ibaratkan permadani hijau raksasa yang membentang seluas 38.000 hektare.

Bentang alam rimba Wehea di Kabupaten Kutai Timur, Kaltimantan Timur. (BERITAJA/HO-Dokumentasi pribadi)

Lebih dari sekadar hamparan pepohonan yang rindang, Wehea adalah rumah bagi keanekaragaman hayati,  menjadi kediaman bagi 61 jenis mamalia, termasuk orang utan, 114 jenis burung, dan 59 jenis pohon berbobot ekonomi.

Keindahan dan kekayaan alamnya tak hanya memesona, tetapi juga menyimpan kegunaan hidrologis krusial sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) Wehea dan Long Gi di Kabupaten Berau.

Masyarakat Adat Dayak Wehea, melalui Lembaga Adat Dayak Wehea, memainkan peran sentral dalam menjaga dan melestarikan rimba ini.

Dedikasi mereka tak sia-sia. Kepedulian Dayak Wehea terhadap Wehea diakui secara luas, terbukti dengan penghargaan Kalpataru tahun 2009. Pengakuan ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal Dayak Wehea dalam mengelola rimba patut dipenghargaan.

Menjaga kelestarian alam Wehea berarti juga memelihara potensi besar dari area tersebut. Hutan ini menjadi rumah bagi jenis langka seperti orang utan, macan dahan, lutung dahi putih, burung enggang, burung umbai, dan beruang madu. Kekayaan tanaman Wehea pun juga sangat beragam. Tidak kurang  dari 120 jenis tumbuhan hidup di tempat ini, dan dari  jumlag itu terdapat 64 tumbuhan yang mempunyai nilai etnobotani (tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat) dan 59 jenis pakan orang utan.

Warisan Wehea-Kelay

Hutan Wehea merupakan bagian bentang alam Wehea-Kelay, campuran hamparan rimba dari Kabupaten Kutai Timur dan Berau, Kaltim. Menurut kitab Warisan Alam Wehea-Kelay, sebuah kajian yang diterbitkan pada tahun 2018 oleh Pokja Kawasan Ekonomi Esensial Wehea Kelay, area ini mempunyai nilai konservasi unik dan memerlukan pengelolaan yang partisipatif dan kolaboratif.

Dengan luas mencapai 532.143 hektare, bentang alam Wehea-Kelay didominasi oleh rimba yang mencakup 87 persen dari total area, sementara sisanya merupakan area nonhutan. Kawasan ini kaya bakal keanekaragaman hayati, termasuk flora, fauna, dan nilai sosial budaya masyarakat setempat yang tetap terjaga dengan baik.

Salah satu inisiatif krusial yang telah dilakukan adalah pembentukan Forum Pengelolaan KEE Wehea-Kelay, yang diresmikan melalui Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 660.1/K.214/2016. Forum ini bermaksud untuk mengintegrasikan beragam unit manajemen, termasuk rimba lindung, areal konsesi IUPHHK, dan perkebunan kelapa sawit, untuk memastikan pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya orang utan Kalimantan.

Komposisi vegetasi di area ini mencakup setidaknya 346 spesies, dengan 53 di antaranya tergolong dalam kategori kritis, genting, dan rentan menurut IUCN Red List. Mayoritas jenis yang terancam berasal dari famili Dipterocarpaceae.

Fauna di bentang alam Wehea-Kelay juga sangat beragam, dengan pengarsipan sekitar 77 jenis mamalia, 271 jenis burung, dan 117 jenis herpetofauna. Orang utan Kalimantan subspesies morio dan macan cabang merupakan dua jenis kunci yang hidup di area ini.

Populasi orangutan kalimantan di Wehea-Kelay diperkirakan berkisar antara 806 hingga 821 individu, yang mencerminkan sekitar 26 persen dari populasi orang utan di Kalimantan Timur. Mereka tersebar di seluruh unit manajemen yang tergabung dalam forum.

Ancaman kehilangan kediaman orang utan semakin meningkat, menjadikan bentang alam Wehea-Kelay sebagai koridor kediaman utama bagi jenis ini. Dengan adanya 227 jenis tumbuhan pakan yang telah teridentifikasi, dengan kekuasaan famili Euphorbiaceae dan Moraceae, area ini memainkan peran krusial dalam pelestarian orang utan Kalimantan.

Upaya konservasi di bentang alam Wehea-Kelay ini tidak hanya krusial bagi keberlangsungan hidup orang utan Kalimantan tetapi juga bagi keanekaragaman hayati secara keseluruhan. Dengan kerja sama yang erat antara pemerintah, masyarakat, dan beragam pihak terkait, angan untuk menjaga warisan alam Kalimantan ini tetap lestari terus berkembang.

Petkuq Mehuey

Di tengah rimbunnya rimba lindung Wehea, Kalimantan Timur, terdapat sebuah organisasi yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kelestarian alam dan budaya mereka. Yuliana Wetuq, seorang wanita berumur 45 tahun dari Desa Nehas Liah Bing, menjadi salah satu motor penggerak organisasi ini.

Yuliana bukan hanya seorang ibu  dari empat anak, dia juga merupakan koordinator golongan penjaga Hutan Lindung Wehea, yang dikenal sebagai Petkuq Mehuey. Dalam bahasa Dayak Wehea, Petkuq Mehuey berfaedah golongan penjaga hutan.

Petkuw Mehuey diartikan sebagai golongan penjaga hutan, berjuang serta beroperasi melindungi kelestarian rimba Wehea. (BERITAJA/HO-Dokumentasi pribadi)

Kelompok ini terdiri atas sekelompok pemuda-pemudi yang bekerja menjaga rimba dari penebang liar, penambang liar, dan mengumpulkan info tanaman dan fauna.

Hutan Lindung Wehea bukan hanya rumah bagi beragam jenis tanaman dan fauna, tapi juga menjadi sumber kehidupan dan budaya bagi masyarakat Dayak Wehea. Hilangnya rimba berfaedah hilangnya tradisi dan upacara budaya krusial mereka.

Yuliana dan Petkuq Mehuey tidak hanya menjaga hutan, tapi juga menjaga budaya Wehea. Mereka mendampingi visitor yang datang dan mengenalkan budaya Dayak Wehea kepada mereka.

Yuliana menjadi salah satu dari tiga wanita yang turut serta dalam aktivitas Petkuq Mehuey dan memegang peranan vital dalam operasional kelompok. Dia mengoordinasikan pembagian agenda tim patroli, memastikan kebutuhan logistik terpenuhi, dan mengatur agenda visitor yang berkunjung.

Dedikasi Yuliana dan Petkuq Mehuey patut dipresiasi. Mereka menunjukkan bahwa wanita jugamampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian alam dan budaya.

Yuliana berambisi langkahnya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan Wehea lainnya untuk terlibat dalam melestarikan budaya dan alam Wehea. Dia mau rimba ini terjaga sampai anak-cucunya nanti.

Cerita Yuliana dan Petkuq Mehuey adalah sebuah pengingat bahwa kelestarian alam dan budaya saling mengenai erat. Menjaga rimba berfaedah menjaga budaya, dan sebaliknya. Dengan dedikasi dan semangat mereka, Yuliana dan Petkuq Mehuey menunjukkan bahwa masa depan Wehea yang sejahtera dan lestari adalah mungkin.

Kisah Wehea adalah bukti nyata bahwa kelestarian alam dapat terwujud melalui sinergi antara manusia dan alam. Kearifan lokal Dayak Wehea dalam mengelola rimba menjadi inspirasi bagi pengelolaan rimba di masa depan, menunjukkan bahwa manusia dan alam dapat hidup berdampingan secara selaras dan saling menguntungkan.

Hutan Lindung Wehea adalah sebuah oase di tengah hiruk pikuk modernisasi, menjadi pengingat bagi semua tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Di kembali lebatnya pepohonan, Wehea menyimpan pesan mendalam tentang tanggung jawab manusia untuk melestarikan warisan alam yang tak ternilai harganya.

Menanti pengakuan 

Suku Dayak Wehea di Kutai Timur, Kalimantan Timur, kembali menyuarakan untuk mendapatkan pengakuan dan perlindungan sebagai Masyarakat Hukum Adat (MHA). Melalui penyelenggaraan ritual budaya dan budaya Lom Plai pada April lalu, mereka berambisi pemerintah dapat mempercepat proses pengakuan MHA yang telah lama dinanti-nantikan.
 

Pesta budaya Lom Plai secara rutin setiap tahun menjadi simbol perjuangan Suku Dayak Wehea untuk mendapatkan hak-hak mereka.
 

"Kami mau mendapat pengakuan dan perlindungan dari pemerintah. Agar kami dan penerus masyarakat Wehea mendapat kepastian norma dari pemerintah," ujar Kepala Adat Suku Dayak Wehea, Ledjie Taq.

Kepala Adat Suku Dayak Wehea Ledjie Taq (tengah) berbareng peneliti dari Jerman. (BERITAJA/HO-Dokumentasi pribadi)

Harapan pengakuan MHA ini bukan tanpa alasan. Masyarakat Dayak Wehea yang tersebar di enam desa di Kecamatan Muara Wahau, ialah Desa Nehas Liah Bing, Long Wehea, Diaq Leway, Dea Beq, Diaq Lay, dan Bea Nehas, merasa terancam oleh kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar dan pembukaan lahan oleh perusahaan yang menakut-nakuti rimba lindung Wehea.

Melalui pengakuan MHA, mereka berambisi mendapatkan kewenangan untuk melindungi wilayah budaya mereka dan melestarikan budaya mereka.

Selain pengakuan MHA, Ledjie Taq juga menyampaikan beberapa permohonan lain, seperti insentif dan operasional untuk pengurus lembaga adat, penyediaan satu unit pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), dan support pendidikan bagi generasi penerus suku Dayak Wehea.

"Kami minta bapak Pj Gubernur dan Bupati untuk memberikan rekomendasi, memberikan perlakuan unik kepada putra-putri kami melalui danasiwa sampai menyelesaikan pendidikannya," pintanya.

Permohonan-permohonan ini diserahkan langsung kepada Pj Gubernur Kalimantan Timur dan Bupati Kutai Timur dengan angan agar dapat segera diwujudkan.

Asa pemangku adat, dengan adanya perhatian dari pemerintah, suara mereka dapat didengar dan diakomodasi, sehingga ke depan mereka dapat hidup dengan tenang dan sejahtera di tanah leluhur.

Editor: Mahfud Slamet Hadi Purnomo
Copyright © BERITAJA 2024







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close