Trends

Dokter jelaskan budaya olahraga di Indonesia yang perlu diubah - Beritaja

Sedang Trending 2 hari yang lalu
beritaja.com
Discover Millions of Products

Jakarta (BERITAJA) - Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dr. Andhika Raspati, SpKO menjelaskan sejumlah budaya olahraga di Indonesia yang perlu diubah oleh masyarakat, terutama mengenai pola pikir dan porsi sesuai kebutuhan tubuh masing-masing.

“Kalau saya lihat, ini dalam konteks Jakarta dulu, saya lihat di Jakarta ini terbagi jadi dua kubu. Ada kubu mereka yang malas berolahraga dan kubu yang terlalu ekstrem olahraga,” kata dr. Andhika Raspati, SpKO dalam jumpa media di Jakarta, Kamis.

Andhika yang merupakan menuturkan sebagai seorang konten pembuat di bagian kesehatan, dia sering menerima banyak komentar dalam konten yang dirinya unggah di media sosial. Dari komentar tersebut, beberapa orang mengaku malas berolahraga dan hanya memandang olahraga sebagai suatu langkah untuk mengobati penyakit.

Hal ini berhujung pada kondisi di mana seseorang baru mengawali olahraga ketika mengalami kegemukan (obesitas), hasil medical check-up (MCU) yang buruk, terkena kolestrol, glukosuria alias penyakit lainnya.

Baca juga: Perhatikan degub nadi saat berolahraga untuk cegah serangan jantung

Temuannya yang lain, ialah adanya golongan yang terlalu ekstrem berolahraga. Biasanya ditemukan dalam sebuah organisasi yang mengalami kejuaraan toksik (toxic competition) di dalamnya.

Ia mencontohkan acapkali ditemukan adanya personil yang merasa mau mencapai hasil yang sama dengan personil lainnya, meski menyadari adanya perbedaan keahlian diri maupun kualitas dan jenis alat-alat yang digunakan selama berolahraga.

“Di organisasi sepeda, itu kita suka rombongan padahal sepedanya berbeda-beda. Ada yang frame-nya enteng, ada yang berat. Padahal tadi, kondisi orang juga beda-beda, mungkin ada yang enggak sehat-sehat banget dan mereka dipaksa selalu bareng. Kalau ketinggalanmampu diledek tiga hari, akhirnya dia enggak mau kalah dan push diri, makanya jika diperhatikan di pletonan itu banyak yang collaps,” ucap master tim nasional balap sepeda Indonesia itu.

Sementara temuan lainnya, ialah adanya orang tua yang terlalu ambisius, sehingga mendorong anaknya konsentrasi menguasai olahraga tertentu yang berujung pada putusnya pendidikan.

“Saya harapkan semua orangmampu berada dalam kondisi tengah-tengah, yang malas tahu jika olahraga bukan Cuma obat tapi jadi investasi agar enggak sakit, dan yang ekstrem jangan terlalu berlebihan lantaran olahraga itu ada patokan main. Jadi semua orangmampu olahraga dengan dosis yang tepat,” katanya.

Co Founder dari Runhood and Running Rage Adystra Bimo menambahkan budaya lainnya dalam olahraga yang patut diubah ialah adanya pola pikir bahwa melakukan olahraga berfaedah sebuah balasan yang perlu dijalani seseorang.

“Seperti ceritaku waktu SMA, dulu olahraga itu tetap menjadi hukuman,” kata dia.

Menurut dia dikarenakan akses dan pengetahuan soal olahraga dalam masyarakat sudah jauh lebih baik, maka masyarakat perlu menjadikan olahraga sebagai sebuah kegemaran yang ditekuni alias suatu profesi.

Terlebih beberapa orang mempunyai potensi sensor motorik yang lebih tinggi, dibandingkan dengan kognitifnya.

“Jadi olahraga itu sama kayak Anda belajar matematika alias fisika dan itu sebenarnyamampu jadi salah satu minat untuk anak-anak. Jadi bukan dijadikan sebagai anak tiri alias hukuman, jika kapabilitas anak di situ, motoriknya lebih tinggi, kenapa enggak difokuskan ke sana lantaran olahragamampu jadi profesi. Itu yang saya mau lihat di Indonesia,” katanya yang juga jadi pembimbing lari di One Track Mind.

Baca juga: Dokter: Olahraga langkah terpenting untuk mencegah varises

Baca juga: Dokter: Olahraga tanpa pemanasanmampu picu radang di sendi

Baca juga: Dokter sebut obesitas tingkatkan akibat idap beragam penyakit


 


Editor: Mahfud
Copyright © BERITAJA 2024







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close