Trends

BKF: Ke depan, kebijakan subsidi energi lebih tepat sasaran dan adil - BeritAja

Sedang Trending 11 bulan yang lalu
beritaja.com

Kerangka kebijakan subsidi daya ke depan bakal dipetunjukkan lebih ke ketepatan sasaran dan dari sisi keadilan

Jakarta (BERITAJA.COM) - Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Abdurohman mengatakan pemerintah berupaya agar kebijakan subsidi daya ke depan lebih tepat sasaran dan adil.

"Kerangka kebijakan subsidi daya ke depan bakal dipetunjukkan lebih ke ketepatan sasaran dan dari sisi keadilan," kata Abdurohman dalam Diskusi Publik: Subsidi Energi dan Kemiskinan nan dipantau virtual di Jakarta, Rabu.

Ia menuturkan untuk program pengentasan kemiskinan, ketepatan dalam penargetan (pensasaran) penerima faedah menjadi krusial bagi peningkatan efektivitas program support sosial dan subsidi.

Pelaksanaan program support sosial dan subsidi menghadapi beberapa tantangan, ialah tetap rendahnya alokasi support sosial, rumor ketidaktepatan sasaran dan belum optimalnya akibat program terhadap penurunan kemiskinan.

Oleh karenanya, Abdurohman mengatakan perbaikan database nan berkepanjangan diperlukan untuk meningkatkan ketepatan sasaran dan efektivitas program.

Menurut dia, support sosial berkedudukan krusial bagi peningkatan kesejahteraan. Namun, pelaksanaannya tetap kurang tepat sasaran dan manfaatnya menurun. 80,2 persen rumah tangga menerima setidaknya satu program support sosial di 2021.

Dari sisi efektivitas dalam penurunan nomor kemiskinan, Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program nan paling efektif untuk menurunkan kemiskinan, kemudian diikuti dengan Kartu Sembako, Program Indonesia Pintar (PIP), sedangkan subsidi LPG nan memang paling rendah.

"Dan jika kita lihat dari tahun ke tahun efektivitasnya memang semakin menurun, ini mungkin kaitannya lantaran ada kenaikan inflasi sementara dari sisi indeksnya tetap belum disesuaikan," tuturnya.

Menurut dia, konsep dasar dari reformasi subsidi daya adalah getting the price right, artinya bahwa nilai peralatan nan terbentuk memang kudu melalui sistem pasar, namun ada dimensi untuk memproteksi alias melindungi golongan miskin untuk menjaga keterjangkauan mereka bakal kebutuhan dasarnya.

Ia menuturkan subsidi berbasis nilai saat ini belum sepenuhnya tepat sasaran dan lebih banyak dinikmati golongan bisa sehingga terjadi inclusion error.

"Namun jika kita lihat kondisi sekarang kan subsidi berbasis nilai ini memang kita tidak bisa memisahkan antara nan miskin dan nan kaya terutama di subsidi energi," ujarnya.

Untuk itu, program perlindungan sosial berbasis penerima faedah dapat mengurangi inclusion error dan lebih efektif dalam penurunan kemiskinan dan ketimpangan, sementara pemutakhiran info penerima faedah bakal memperbaiki dari sisi exclusion error.

"Reformasi dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi berbasis penerima faedah ini menjadi jalan keluar nan saya kira perlu terus diupayakan lantaran ini bakal memberikan ketepatan sasaran nan lebih besar," ujarnya.

Berita lain dengan Judul: Sri Mulyani: Realisasi subsidi dan kompensasi daya Rp551,2 triliun
Berita lain dengan Judul: Pemerintah pertahankan subsidi daya untuk jaga daya beli masyarakat
Berita lain dengan Judul: Indef sorong Pemerintah percepat reformasi kebijakan subsidi energi

 

Martha Herlinawati Simanjuntak

COPYRIGHT © BERITAJA.COM 2023





Baca Juga:
  • Bahasa Banjar Translate dan Artinya
  • Pantun Bahasa Banjar
  • 10 Tanda Baca dalam Alquran
  • Terkini! Waktu Sholat Banjarmasin
  • Lengkap A-Z, Rekomendasi Nama Nama Bayi Laki Laki Islami dan Artinya
  • Lengkap! A-Z, Nama Nama Bayi Perempuan Islami dan Artinya


  • Kategori:



    Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di



    close