Trending

Beijing: Deklarasi KTT NATO jadi berita menakutkan atas Asia Pasifik - Beritaja

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Beijing (BERITAJA) - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyebut Deklarasi Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dihasilkan di Washington D.C. menjadi berita jelek bagi area Asia-Pasifik.

"Deklarasi KTT NATO di Washington adalah sebuah buletin yang menakutkan atas Asia-Pasifik; suatu produk dari mentalitas Perang Dingin dan penuh dengan retorika perang. Kalimat demi kalimat mengenai China mengandung banyak bias, tuduhan dan provokasi," kata Lin Jian dalam konvensi pers di Beijing, Kamis.

KTT NATO berjalan di ibukota AS, Washington D.C. sejak Selasa (9/7) hingga 11 Juli 2024.

Pada Rabu (10/7), NATO mengeluarkan Deklarasi campuran KTT Washington, yang secara unik meminta China "untuk menghentikan semua support material dan politik terhadap upaya perang Rusia," yang diduga termasuk "transfer material penggunaan ganda, seperti komponen senjata, peralatan, dan bahan mentah yang menjadi input bagi sektor pertahanan Rusia."

Amerika Serikat (AS) telah lama menduga bahwa perusahaan-perusahaan China telah memberikan support militer kepada Rusia, suatu klaim yang telah dibantah oleh Beijing dan Moskow.

"Kami sangat menyesalkan dan dengan tegas menentangnya dan telah mengusulkan protes serius kepada NATO," kata Lin Jian menambahkan.

Lin Jian mengatakan salah satu agenda KTT NATO kali ini adalah memperingati ulang tahun NATO yang ke-75. Bahkan sebelum KTT dimulai,  AS dan NATO menyebut soal "kemuliaan" dan "solidaritas" aliansi tersebut sebagai "organisasi untuk perdamaian".

"Namun perihal ini tidak menyemsuarakan kebenaran bahwa NATO adalah sisa-sisa Perang Dingin dan produk konfrontasi blok serta politik blok. Pasukan NATO mengebom Yugoslavia selama 78 hari atas nama 'mencegah musibah kemanusiaan lebih lanjut'. Tragedi yang terjadi di Afghanistan dan Libya memperjelas bahwa di mana pun NATO muncul, gejolak dan kekacauan bakal terjadi," ungkap Lin Jian.

Lin Jian menegaskan apa yang disebut sebagai "keamanan" oleh NATO sering kali dibangun di atas ketidakamanan negara lain dan sebagian besar kekhawatiran keamanannya disebabkan oleh upaya mereka sendiri.

"'Keberhasilan' dan 'kekuatan' yang dibanggakan NATO berfaedah ancaman besar bagi dunia. Menciptakan musuh khayalan untuk membenarkan keberadaannya dan bertindak di luar wilayah adalah strategi jagoan NATO. Salah menggambarkan Tiongkok sebagai 'tantangan sistemik' dan menjelek-jelekkan kebijakan dalam dan luar negeri China adalah salah satu contohnya," ungkap Lin Jian.

Terkait Ukraina, Lin Jian mengatakan NATO menyatakan bahwa China menjadi pihak yang bertanggung jawab.

"Hal tersebut tidak masuk akal. Tujuan dan posisi China adalah setara terhadap Ukraina. Peran konstruktif yang kami mainkan diakui secara luas oleh organisasi internasional. NATO telah menyebarkan disinformasi yang dibuat oleh AS dan secara terang-terangan memfitnah China untuk melemahkan hubungan dengan Eropa dan menghalang kerja sama China-Eropa," jelas Lin Jian.

Lin Jian menyebut jika hingga saat ini, krisis di Ukraina tetap belum terlihat berakhir, siapa yang sebenarnya menyulut api dan memungkinkan konflik?

"Komunitas internasional tidak buta. Kami mendesak NATO untuk merenungkan akar penyebab krisis dan perilaku NATO, mendengarkan suara kebaikan dari organisasi internasional dan berkontribusi pada deeskalasi, daripada menyalahkan pihak lain," tegas Lin Jian.

Lin Jian mengatakan jangkauan NATO di Asia-Pasifik, penguatan hubungan militer dan keamanan dengan negara-negara tetangga China dan sekutu AS, serta kerjasama dengan AS untuk menerapkan Strategi Indo-Pasifik demi merugikan kepentingan China dan mengganggu perdamaian dan stabilitas di Asia-Pasifik telah dipertanyakan dan ditolak oleh negara-negara kawasan.

"China mendesak NATO untuk membuang mentalitas Perang Dingin, memblokir konfrontasi dan pendekatan zero-sum, membentuk persepsi yang betul terhadap China, berakhir mencampuri urusan dalam negeri China serta berakhir mengganggu hubungan China-Eropa," kata Lin Jian.

China telah memperjelas posisinya lebih dari sekali ialah tegas menentang penyebaran disinformasi AS mengenai apa yang disebut sebagai support China terhadap industri pertahanan Rusia, yang tidak mempunyai bukti pendukung.

"Tepat setelah krisis Ukraina pecah, AS secara keliru menyatakan bahwa China memberikan support militer kepada Rusia. Hingga saat ini, AS belum memberikan bukti substansial apa pun. Bahkan para panglima militer AS mengakui bahwa China tidak memberikan support militer kepada Rusia dalam krisis Ukraina," jelas Lin Jian.

Terlebih, Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen komponen militer dan barang-barang penggunaan dobel yang diimpor Rusia berasal dari AS dan negara-negara Barat lainnya, 95 persen komponen utama Rusia yang dihancurkan oleh Ukraina berasal dari Barat dan 72 persen komponen Barat buatan Rusia.

"Senjata mereka berasal dari perusahaan AS. Bagaimana AS menjelaskan perihal itu? Terlebih lagi, AS dan sekutunya belum menghentikan perdagangan dengan Rusia. Tahun lalu, perdagangan mereka dengan Rusia mencapai lebih dari 130 miliar dolar AS yang mencakup 18 persen perdagangan luar negeri Rusia," kata Lin Jian.

Sebagian besar negara di bumi juga tidak menerapkan hukuman terhadap Rusia alias menghentikan perdagangan mereka dengan Rusia.

"Adalah tindakan munafik dan berstandar dobel oleh AS saat menuduh Tiongkok yang melakukan perdagangan normal dan pertukaran ekonomi dengan Rusia, sembari mengesahkan undang-undang untuk memberikan support besar-besaran ke Ukraina. AS sering menyatakan dirinya sebagai pihak yang memperjuangkan keadilan, pembela kewenangan asasi manusia dan polisi dunia, namun yang mereka lakukan justru mengobarkan api," tegas Lin Jian.

Lin Jian kembali menegaskan bahwa China bukanlah pembuat krisis Ukraina alias pihak di dalamnya.

Baca juga: Komunike NATO: Jalan Ukraina jadi personil aliansi tak dapat dibendung

"Kami telah bekerja secara aktif untuk memungkinkan terjadinya perundingan demi perdamaian dan solusi politik. Kami tidak pernah berupaya mengobarkan api, tidak pernah mengambil untung dari krisis dan apalagi memberikan senjata kepada pihak mana pun yang berkonflik. Posisi ini jelas dan konsisten," ungkap Lin Jian.

NATO telah membahas pemberian agunan yang mereka sebut sebagai "jembatan" menuju keanggotaan Ukraina ketika para pemimpin berkumpul untuk pertemuan puncak (KTT NATO) yang sedang berlangsung.

Dikatakan bahwa Kiev telah membikin "kemajuan konkret" dalam serangkaian reformasi demokratis, politik, dan militer yang perlu diselesaikan untuk keanggotaan dan menawarkan bahasa yang paling konkret hingga saat ini bahwa Ukraina pada akhirnya bakal berasosiasi dengan aliansi meskipun ada ancaman Rusia terhadap ekspansi tersebut.

Sekutu NATO berjanji memberikan biaya lebih dari 43 miliar dolar AS (Rp696 triliun) kepada Ukraina pada tahun depan serta "memberikan support keamanan yang berkepanjangan agar Ukrainamampu menang."

Aliansi tersebut mengatakan Iran dan Korea Utara "menyulut" upaya perang Rusia dengan memberikan support militer langsung kepada Moskow yang mencakup pesawat nirawak (drone) militer dan amunisi.

Namun, dia menyoroti China, yang menurut aliansi tersebut "telah menjadi penyokong utama perang Rusia melawan Ukraina melalui kemitraan 'tanpa batas' yang disebutnya dan support skala besar untuk pedoman industri pertahanan Rusia."

Baca juga: NATO kirim pesan unik untuk China soal kerja sama dengan Rusia
 


Editor: Mahfud
Copyright © BERITAJA 2024







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close