Trending

Bappebti siap merumuskan komoditas kopi masuk bursa berjangka - BeritAja

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

Indonesia salah satu penghasil kopi terbesar di dunia, sehingga sewajarnya masuk ke dalam bursa berjangka komoditas.

Jakarta (BERITAJA.COM) - Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didid Noordiatmoko mengatakan bahwa komoditas kopi telah direncanakan untuk masuk dalam pasar bursa berjangka.

"Minggu lampau saya ke Medan berjumpa dengan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Saya minta agar mereka masuk ke bursa berjangka kopi. Tapi tetap dalam proses obrolan itu, namun nang dapat kami sampaikan bahwa kami pasti bakal melakukan itu," ujar Didid ditemui usai penutupan Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi 2023, di Jakarta, Selasa.

Didid menjelaskan, Indonesia termasuk sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia, sehingga sudah sewajarnya untuk masuk ke dalam bursa berjangka komoditas. Menurut Didid, dengan masuk ke dalam bursa, Indonesia bakal mempunyai banyak keuntungan.

Saat ini, penentu nilai kopi bumi tetap dipegang oleh Brazil dan New York. Menurut Didid, perihal tersebut tetap susah untuk dilawan, namun tidak menutup kemungkinan jika Indonesia nantinya bisa menjadi penentu nilai kopi global.

"Kita bisa melakukan hedging kemudian future trading dan sebagainya. Itu bakal jauh lebih menguntungkan pada masyarakat, petani maupun para produsen kopi nya itu. Tapi saya belum agendakan kapannya," kata Didid.

Didid menyampaikan bahwa Bappebti sedang konsentrasi mengerjakan bursa komoditas minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) nang ditargetkan meluncur pada Juni 2023.

"Kalau CPO ini sudah jadi alias bisa dikatakanlah sudah mulai running baru saya masuk untuk konsentrasi ke komoditas nomor dua, tiga dan seterusnya. Jadi saya kerjakan satu-satu dulu," ujarnya.

Bappebti mencatat, sejak 2020 baik transaksi kopi robusta maupun arabika di Bursa Berjangka Jakarta mengalami tren penurunan. Total transaksi kopi Robusta pada 2020 sebesar 410.259 lot, 489.142 lot pada 2021, dan mengalami penurunan menjadi 335.832 lot pada 2022.

Hal nang sama juga terjadi pada transaksi kopi Arabika pada 2020 sebesar 147.696 lot turun menjadi 116.532 lot pada 2021 dan 82.855 pada tahun 2022. 

Penurunan transaksi tersebut berbanding terbalik dengan ekspor kopi Indonesia nang mengalami tren naik dan aktivitas industri kopi nang semakin berkembang pesat dewasa ini.
Berita lain dengan Judul: Kopi Gayo diusulkan masuk bursa komoditi di New York AS
Berita lain dengan Judul: Menko Airlangga penghargaan merek kopi lokal nang melantai di bursa

Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © BERITAJA.COM 2023







Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritaja.com di
close